headline photo

Satu Sore di PJS-GK

Selasa, 03 Agustus 2010



Sampai juga aku pada hari ini. Ada bagian dari hari ini yang kunanti, namun ada pula bagian yang aku benci. Perpisahan yang kubenci untuk memulai lagi suatu awal yang kunanti. Demi hari ini, tawaran untuk mudik bersamapun aku tampik. Lebih kupilih berdesakan berjam-jam di kereta esok hari demi bisa melewatkan hari terakhir di PJS-GK. Duduk beralas PosKota atau bahkan berdiri sepanjang perjalanan kereta. "Sisa-sisa idealisme masa mahasiswa yang masih terbawa.." Kaka'ku hanya tersenyum mendengar penolakanku untuk mudik bersama. Ada banyak kenangan di tempat ini, dan diantara sekian banyak itu, ada satu orang gadis penyuka film India…

Menjelang sore, kuhampiri dirinya dan kuucap salam, ia menjawab. Ia duduk dibangkunya. Aku berbicara sambil berlutut didepannya. Tak peduli aku dengan orang lain yang satu ruangan dengannya. Kukatakan padanya jika ini hari terakhirku, ia sempat bertanya aku akan kemana, tapi kujawab dengan bercanda.

Masih seperti sebelumnya, tak berani ia membalas tatapanku. Sementara, aku juga tak ingin berlalu begitu saja. Setelah kemarin, 4 buku dari seri tetralogi Laskar Pelangi ditambah beberapa buah buku "K!ck Andy" koleksi ku, kini sebungkus strawberry merah berhias pita menjuntai dengan warna senada kuhadiahkan untuknya. Sebagai menu buka puasa. Ia menerima. Tak hanya sambil tersenyum, kali ini ia tertawa. Tertawa riang persisnya, kutatap wajahnya, yang akupun tak tau kapan bisa kujumpai lagi setelah hari ini. Pipinya semu memerah. Syukurlah, jika ia menyukainya. Usahaku membawa manfaat dan tak sia-sia.

Dan tentang tawa riang itu..
Adalah kedua kalinya kulihat ia tertawa, setelah yang pertama saat kuajak ia menghabiskan sore di pelataran kampus Universitas Negeri Jakarta, selepas kerja sambil mengantar ia ke kampusnya. Di masa-masa awal kukenal dengannya. Walau sore ini berakhir dengan penolakan yang aku terima, namun tawanya itu memberi kenangan tersendiri dari begitu sedikit kesempatanku untuk berada dekat dengannya..

2 tahun lalu, 4 Agustus 2008 menjadi hari pertamaku di PJS-GK. Datang dengan status "mahasiswa belum ujian skripsi, tanpa pengalaman kerja". Dan 17 September 2009, menjadi hari terakhirku di sini. Setidaknya untuk periode ini..



Thanks to semua rekan kerja
Dari level Helper sampai tingkat Manager
Dari Pos Security sampai Ruang IT
Dari Engineering sampai Purchasing
Dari Produksi sampai QC
Dan semua staff PJS-GK lainnya
Semoga hubungan baik ini akan tetap terjaga..



Jabat erat,
Jati Resmudita


Prima Jabar Steel-Grand Kartech
Bekerja dengan hati, jujur, penuh tanggung jawab

Anti Kemapanan

Rabu, 28 Juli 2010


Saya lebih menikmati mudik dengan berburu tiket, tawar-menawar dengan calo, menggendong backpack, bedesakan dalam kereta, ngemper beralas koran di lorong kereta kelas bisnis dan ngobrol hal2 ga penting dengan sesama penumpang daripada tinggal telpon bt pesen tiket, menyeret travel bag, duduk manis di kursi empuk dengan semilir AC, diam seribu bahasa dengan penumpang sebelah, bahkan menyapapun tidak.
Anti kemapananan bukan berarti tidak mapan, mapan dari segi ekonomi dan karier. Bukan pula hidup tanpa norma dan aturan. Bagi saya, anti kemapanan adalah sikap untuk tidak cepat puas dan haus akan tantangan. Saya kurang setuju jika prolog saya diatas anda sebut sebagai "kerepotan". Saya lebih suka menyebutnya sebagai "tantangan". Kerepotan hanya menghasilkan kelegaan saat kita berhasil melewatinya, namun tantangan akan menghasilkan kepuasan. Itulah perbedaannya. Kerikil kecil dalam kehidupan akan membuat kita semakin dewasa. Justru, anti kemapanan sebenarnya adalah sangat mapan. Mapan pada idealisme yang dianutnya.
Sebagian dari Anda sinis dengan saya? “Anda begitu dengan gaya hidup anda karena anda belum mendapat kesempatan untuk medapatkan kemapanan (materi)”.
Mungkin anda menilai jika saya tidak ingin hidup berkecukupan, dengan karier bagus, rumah mewah, sedan mulus dan pakaian bagus. Bukan! Bukan itu. Tempatkanlah diri anda sebagai penyelam bawah laut, tentunya anda akan merasa puas dan bangga jika telah berhasil menyelami diving spot yang mungkin orang lain belum banyak mencapainya. Namun anda harus sadar, tak akan bisa berlama-lama anda disana. Bekal oksigen anda akan segera habis, selain itu anda pasti juga sadar jika di suatu tempat, di sisi lautan sana akan ada tempat yang lebih indah untuk anda selami.
Setidaknya, itulah arti anti kemapanan menurut saya. Tidak terlalu lama asyik dalam zona nyaman.. Masih ada banyak tantangan lain yang harus dihadapi untuk kehidupan yang lebih indah. Kondisi yang lebih nyaman lagi, lagi dan lagi.
Jangan terburu puas dengan hasil yang sekarang kita bukukan dalam hidup. Terus perbaiki sampai kita bertemu dengan kematian.

Ketika Pecandu beraksi

Senin, 28 Juni 2010




Lelaki berbadan subur itu naik ke bak pick up yang telah penuh dengan sound sistem dan tempelan spanduk pendukung aksi demo. Tak ada tanda-tanda jika ia adalah pecandu.
“Gue adalah pemakai ganja!! Tapi gw ga malu buat ngakuin kalo gue pemakai ganja!!”. Itulah sepetik orasi di hari itu, Sabtu 26 Juni 2010. Saat sudut lain di Jakarta memperingati Hari Anti Narkoba Internasional, mereka para pecandu melakukan aksi tandingan. Mereka beranggapan jika pecandu adalah korban bukan pelaku kriminal. ..

Berburu Kabut Situ Gunung

Sabtu, 22 Mei 2010



Waktu hampir tengah malam saat aku memutuskan untuk berangkat. Walau sebenarnya tak ada yang kukuasai tentang rute ke Situ Gunung. Rasa penasaranlah pendorong ku. Oleh awak bus di pool dekat halte Busway BKN Cawang yang aku tanyai, aku disarankan untuk naik angkot jenis Elf di kolong fly over Cawang menuju Ciawi, lalu berganti angkot ke Cisaat karena sudah tidak ada bus ke arah Bogor atau Sukabumi tengah malam begini. Segera aku menuju fly over Cawang, menyebrang lalu menelusuri pasar. Untunglah, masih ada angkot yang aku maksud. Masih kosong, membuat aku harus menunggu. “Bentar Mas ya…baru 3 orang” ucap pak Sopir. 45 menit berlalu, dengan 9 orang penumpang angkot pun melaju..



Mata masih terasa berat saat aku turun di Ciawi, sementara di seberang jalan telah menunggu angkot berikutnya ke arah Cisaat. Aku segera berpindah. Sandaran kursi yang rendah, jalan yang berlubang dan bergelombang serta cara menyetir yang cenderung ugal-ugalan membuat ku tak bisa tidur. Ditengah rasa kantuk itu, sesekali terdengar umpatan Pak Sopir pada “lawan-lawannya”. Membuat ku semakin tak bisa tidur saja..

“Terror” itu berakhir di depan Polsek Cisaat, tempat ku turun untuk berganti angkutan umum lagi. Beberapa tukang ojek mendekat, menawarkan jasanya membawa ku sampai ke Situ Gunung. Tawaran itu ku tolak. Pukul 3 pagi waktu itu. Ku putuskan menikmati semangkuk bubur ayam sembari mencari informasi. Dari cerita penjual bubur ayam itu, aku tau jika ada angkot menuju Situ Gunung. “Kalo siang mah 3ribu” jawab penjual bubur ayam itu saat ku tanya soal tarif angkot. Aku segera capcus menuju pangkalan angkot, 50 meter dari pertigaan polsek Cisaat. Rupanya, tukang ojek disana mempunyai semangat Spartan. Mereka tetap menawarkan jasanya pada ku meski sudah ku tolak dan ku jelaskan jika aku lebih memilih angkot. Bahkan mereka mengikuti ku sampai ke pangkalan angkot. “Semangat sekali bapak ini…” Suatu pelajaran untuk ku..


Angkot merah itu datang juga, segera mengantar ku ke Gerbang Situ Gunung. Tak lama, sekitar 15 menit. Tak ada penjaga saat ku tiba. Tak ingin sembrono, kupilih menunggu sambil mencoba mengabadikan bintang. Sementara di bawah sana, lampu di kota Sukabumi terlihat mencolok diantara gelapnya malam.
Segera ku mencari Musholla saat adzan subuh terdengar pelan. Aku menemukannya di sebuah klinik pengobatan alternatif. Tampak seorang penjaga tidur di pos nya. Kuketuk jendela kacanya, ia terbangun. Dengan gerakan tangan aku memberi isyarat untuk menumpang sholat. Ia mengangguk lalu tertidur lagi. Selesai Sholat, kulihat penjaga itu telah berdiri di depan pos jaga. Aku pun menceritakan niat ku untuk naik ke Situ Gunung kepada penjaga klinik itu. Ia mengatakan jika aku bisa melapor saat turun dari Situ Gunung. Tanpa banyak pertimbangan, langsung kupanggul backpack dan melanjutkan perjalanan. Tak lupa ku ucapkan terimakasih pada penjaga itu klinik itu.

Cahaya dari senter memandu ku menelusuri jalan berbatu yang licin setelah tersiram hujan. Pada beberapa titik ku berhenti sejenak untuk membaca rambu penunjuk arah. Matahari mulai menunjukkan tanda-tanda kemunculannya, sinarnya membuat siluet biru dilereng Gunung Gede Pangrango. Harus segera sampai di danau, tekadku. Kupercepat langkahku. Tanjakan semakin terjal, tapi dari tanjakan itulah bisa kulihat Situ Gunung. Berwarna putih, mungkin karena pantulan sinar matahari yang belum terbit sepenuhnya. Setelah tanjakan terakhir itu, masih ada satu jalan menurun. Membentuk huruf U dengan tanjakan itu. Tak ingin memutar ku coba mencari jalan pintas melalui sebuah ceruk yg terbentuk oleh aliran air hujan, namun jalur yang terlalu extrim membatalkan niatku.

Aku pun mengikuti jalan yang sudah ada. Sebentar saja, terhampar pemandangan indah di hadapan ku. Sebuah danau buatan yang tampak alami. Dikelilingi hijaunya pepohonan dengan latar belakang Gunung Gede Pangrango. Kabut rendah tampak menutupi beberapa bagian pepohonan. Aku duduk di tepinya, kubiarkan kakiku terendam dalam dinginnya air danau Situ Gunung. Segar rasanya, membuat ku lupa akan rasa lelah yang mendera..




Gadis Pemalu Berkerudung Ungu (dedicated to Yayah)

Rabu, 24 Februari 2010

Setting lokasi : Ruangan kantor dengan para pegawai berlatar belakang disiplin ilmu teknik. Dengan jendela besar menghadap ke workshop area, yang akan ikut bergetar kala overhead crane beroperasi.
Setting properti : Deretan kursi dan meja kerja dengan seperangkat komputer diatasnya. 1 Mesin fotokopi ukuran besar dan 1 mesin fotokopi ukuran kecil. 2 lemari arsip besar tempat dokumen project yang telah berlalu, yang hanya akan ditengok saat inspeksi tiba.
Setting pelaku : Para pegawai yang sedang sibuk dengan project yang dikejar deadline dan masih harus berhadapan dengan bertumpuk prosedur berbahasa asing, code dan gambar teknik revisi ke sekian kalinya sambil mencari email lowongan kerja. Namun apa lacur, yang memenuhi inbox hanya deretan email pertanyaan dari klien yang tak jauh-jauh dari progress pekerjaan.

Itulah gambaran dari ruang kerja baruku. Terasa lebih beku memang, tapi bagiku mutasi itu membuatku "tersesat ke jalan yang benar". Memang seharusnyalah aku di sini, pikirku. Berkubang dalam rumus-rumus yang akupun tak tau dari mana asalnya. Mutasi itu pulalah yang mempertemukanku dengan "gadis pemalu berkerudung ungu". Seorang gadis yang menjadi pencair suasana kerja yang serasa beku. Semua suasana itu lenyap dengan kemunculan dirinya. Seperti saat itu, kulihat ia berjalan dalam lorong, melewati ruang meeting untuk masuk ke ruang engineering. Benar saja, kesibukan kerja terhenti. Terdengar ucapan dan siulan menggoda dari teman di pojok kananku. Membuat Si gadis tertunduk malu...
Tak berani ia membalas tatapan mata yang mengamati gerak-geriknya. Kepalanya menunduk, mata itu tertuju pada mesin fotokopi kecil di hadapannya. Jari-jari lentiknya menekan tombol-tombol operasi. Disadari atau tidak olehnya, justru disitulah pesona kecantikannya. Geliatnya justru menciptakan lirikan mata. Lirikan mata yang di tepi kelopaknya menghitam oleh eyeliner memang menghasilkan pesona kecantikan berbeda. Garis hitam di kelopak matanya terlihat kontras dengan kulit putih wajahnya, dilengkapi senyum kecil yang muncul dari tawa yang tertahan karena tingkah laku para engineer itu...
Dan, tempat dudukku adalah tempat paling tepat menikmati pesona itu. Di arah jam 10 dari tempat dudukku. Dengan posisi dudukku yang membuat ku lebih rendah darinya, justru aku bisa memandang wajahnya, yang coba dia sembunyikan dalam tundukan kepala. Sebuah konstelasi posisi yang sempurna. Sayang, tak bisa kuberlama-lama menikmatinya. Segera saja ia berlalu setelah itu.
Dan suasana hening kembali, menenggelamkan kembali para engineer itu di dalam kesibukan…
(to be continued, semoga…..)


Dedicated to:
Yayah
Met Ultah ya De'...Wish you all the best
Salam,

Ka' Jati



iseng2 aja motrek..

Jumat, 12 Februari 2010



bendera MERAHPUTIH usang di antara gedung megah Jakarta


ANTI Jati Resmudita (part 2)

Kamis, 04 Februari 2010

"Aku cukup kenal kamu kemarin2 aja" itu yang kau tulis di sms mu..
"Ga mau kenal aku lagi?" tanyaku
Kau pun menjawab "Ya"
Tak kau jawab saat ku tanya alasannya..

Kucoba menghubungimu..
"Dengan Bee, bisa dibantu??" tanyamu di ujung telpon
"Bisa tolong dengerin aku sebentar?" balasku
"GA, AKU UDAH GA MAU...."
Dan sambungan telpon langsung terputus..

Inikah harga yang harus kubayar karena kesalahan ku itu? Aku tak yakin. Kau tak seangkuh itu. Kucoba tuk berpikir positif, seperti yang telah kau ajarkan padaku dulu. Mungkin, ini caramu melupakanku. Dengan keadaan mu sekarang, sangat logis bagiku keputusanmu itu..

Sungguh, tak ada maksud sedikitpun untuk mengecewakanmu.