headline photo

Anti Kemapanan

Rabu, 28 Juli 2010


Saya lebih menikmati mudik dengan berburu tiket, tawar-menawar dengan calo, menggendong backpack, bedesakan dalam kereta, ngemper beralas koran di lorong kereta kelas bisnis dan ngobrol hal2 ga penting dengan sesama penumpang daripada tinggal telpon bt pesen tiket, menyeret travel bag, duduk manis di kursi empuk dengan semilir AC, diam seribu bahasa dengan penumpang sebelah, bahkan menyapapun tidak.
Anti kemapananan bukan berarti tidak mapan, mapan dari segi ekonomi dan karier. Bukan pula hidup tanpa norma dan aturan. Bagi saya, anti kemapanan adalah sikap untuk tidak cepat puas dan haus akan tantangan. Saya kurang setuju jika prolog saya diatas anda sebut sebagai "kerepotan". Saya lebih suka menyebutnya sebagai "tantangan". Kerepotan hanya menghasilkan kelegaan saat kita berhasil melewatinya, namun tantangan akan menghasilkan kepuasan. Itulah perbedaannya. Kerikil kecil dalam kehidupan akan membuat kita semakin dewasa. Justru, anti kemapanan sebenarnya adalah sangat mapan. Mapan pada idealisme yang dianutnya.
Sebagian dari Anda sinis dengan saya? “Anda begitu dengan gaya hidup anda karena anda belum mendapat kesempatan untuk medapatkan kemapanan (materi)”.
Mungkin anda menilai jika saya tidak ingin hidup berkecukupan, dengan karier bagus, rumah mewah, sedan mulus dan pakaian bagus. Bukan! Bukan itu. Tempatkanlah diri anda sebagai penyelam bawah laut, tentunya anda akan merasa puas dan bangga jika telah berhasil menyelami diving spot yang mungkin orang lain belum banyak mencapainya. Namun anda harus sadar, tak akan bisa berlama-lama anda disana. Bekal oksigen anda akan segera habis, selain itu anda pasti juga sadar jika di suatu tempat, di sisi lautan sana akan ada tempat yang lebih indah untuk anda selami.
Setidaknya, itulah arti anti kemapanan menurut saya. Tidak terlalu lama asyik dalam zona nyaman.. Masih ada banyak tantangan lain yang harus dihadapi untuk kehidupan yang lebih indah. Kondisi yang lebih nyaman lagi, lagi dan lagi.
Jangan terburu puas dengan hasil yang sekarang kita bukukan dalam hidup. Terus perbaiki sampai kita bertemu dengan kematian.

0 komentar: