headline photo

Berburu Kabut Situ Gunung

Sabtu, 22 Mei 2010



Waktu hampir tengah malam saat aku memutuskan untuk berangkat. Walau sebenarnya tak ada yang kukuasai tentang rute ke Situ Gunung. Rasa penasaranlah pendorong ku. Oleh awak bus di pool dekat halte Busway BKN Cawang yang aku tanyai, aku disarankan untuk naik angkot jenis Elf di kolong fly over Cawang menuju Ciawi, lalu berganti angkot ke Cisaat karena sudah tidak ada bus ke arah Bogor atau Sukabumi tengah malam begini. Segera aku menuju fly over Cawang, menyebrang lalu menelusuri pasar. Untunglah, masih ada angkot yang aku maksud. Masih kosong, membuat aku harus menunggu. “Bentar Mas ya…baru 3 orang” ucap pak Sopir. 45 menit berlalu, dengan 9 orang penumpang angkot pun melaju..



Mata masih terasa berat saat aku turun di Ciawi, sementara di seberang jalan telah menunggu angkot berikutnya ke arah Cisaat. Aku segera berpindah. Sandaran kursi yang rendah, jalan yang berlubang dan bergelombang serta cara menyetir yang cenderung ugal-ugalan membuat ku tak bisa tidur. Ditengah rasa kantuk itu, sesekali terdengar umpatan Pak Sopir pada “lawan-lawannya”. Membuat ku semakin tak bisa tidur saja..

“Terror” itu berakhir di depan Polsek Cisaat, tempat ku turun untuk berganti angkutan umum lagi. Beberapa tukang ojek mendekat, menawarkan jasanya membawa ku sampai ke Situ Gunung. Tawaran itu ku tolak. Pukul 3 pagi waktu itu. Ku putuskan menikmati semangkuk bubur ayam sembari mencari informasi. Dari cerita penjual bubur ayam itu, aku tau jika ada angkot menuju Situ Gunung. “Kalo siang mah 3ribu” jawab penjual bubur ayam itu saat ku tanya soal tarif angkot. Aku segera capcus menuju pangkalan angkot, 50 meter dari pertigaan polsek Cisaat. Rupanya, tukang ojek disana mempunyai semangat Spartan. Mereka tetap menawarkan jasanya pada ku meski sudah ku tolak dan ku jelaskan jika aku lebih memilih angkot. Bahkan mereka mengikuti ku sampai ke pangkalan angkot. “Semangat sekali bapak ini…” Suatu pelajaran untuk ku..


Angkot merah itu datang juga, segera mengantar ku ke Gerbang Situ Gunung. Tak lama, sekitar 15 menit. Tak ada penjaga saat ku tiba. Tak ingin sembrono, kupilih menunggu sambil mencoba mengabadikan bintang. Sementara di bawah sana, lampu di kota Sukabumi terlihat mencolok diantara gelapnya malam.
Segera ku mencari Musholla saat adzan subuh terdengar pelan. Aku menemukannya di sebuah klinik pengobatan alternatif. Tampak seorang penjaga tidur di pos nya. Kuketuk jendela kacanya, ia terbangun. Dengan gerakan tangan aku memberi isyarat untuk menumpang sholat. Ia mengangguk lalu tertidur lagi. Selesai Sholat, kulihat penjaga itu telah berdiri di depan pos jaga. Aku pun menceritakan niat ku untuk naik ke Situ Gunung kepada penjaga klinik itu. Ia mengatakan jika aku bisa melapor saat turun dari Situ Gunung. Tanpa banyak pertimbangan, langsung kupanggul backpack dan melanjutkan perjalanan. Tak lupa ku ucapkan terimakasih pada penjaga itu klinik itu.

Cahaya dari senter memandu ku menelusuri jalan berbatu yang licin setelah tersiram hujan. Pada beberapa titik ku berhenti sejenak untuk membaca rambu penunjuk arah. Matahari mulai menunjukkan tanda-tanda kemunculannya, sinarnya membuat siluet biru dilereng Gunung Gede Pangrango. Harus segera sampai di danau, tekadku. Kupercepat langkahku. Tanjakan semakin terjal, tapi dari tanjakan itulah bisa kulihat Situ Gunung. Berwarna putih, mungkin karena pantulan sinar matahari yang belum terbit sepenuhnya. Setelah tanjakan terakhir itu, masih ada satu jalan menurun. Membentuk huruf U dengan tanjakan itu. Tak ingin memutar ku coba mencari jalan pintas melalui sebuah ceruk yg terbentuk oleh aliran air hujan, namun jalur yang terlalu extrim membatalkan niatku.

Aku pun mengikuti jalan yang sudah ada. Sebentar saja, terhampar pemandangan indah di hadapan ku. Sebuah danau buatan yang tampak alami. Dikelilingi hijaunya pepohonan dengan latar belakang Gunung Gede Pangrango. Kabut rendah tampak menutupi beberapa bagian pepohonan. Aku duduk di tepinya, kubiarkan kakiku terendam dalam dinginnya air danau Situ Gunung. Segar rasanya, membuat ku lupa akan rasa lelah yang mendera..




1 komentar:

Kang Sjam mengatakan...

boleh juga 'gaya perjalanannya' yg perlu nyali tapi bisa bikin variasi dikit ya.... mumpung sedang muda....banyak keakraban dengan alam yang perlu terus dirambah....