headline photo

Pertemuan Kedua

Selasa, 19 Januari 2010

Jam tangan Swiss Army ku menunjukkan pukul 17.20. 40 menit lagi adalah waktu untuk periodic test 2 kursus bahasa inggrisku. Sementara aku masih disini. Menunggu penulis idolaku, Andrea Hirata untuk sekedar mencoba mendapatkan tanda tangannya. 3 jam yang lalu aku duduk menyaksikan KickAndy, acara faforitku yang sedang mengadakan acara off air di kota keduaku ini. KickAndy dan Laskar Pelangi, 2 hal yang selalu menyita perhatianku. Bahkan membuatku lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian itu. Rasa lelah menyerbu tubuhku.
Dengan segala ketertarikanku akan 2 hal itu dan ketidak siapan ku untuk ujian serta rasa lelah ku, sebenarnya aku punya alasan untuk tidak mengikuti ujian itu dan lebih memilih make up test. Namun, ada magnet yang menarik ku untuk datang. Westy, dialah magnet itu. Saat term tinggal menyisakan beberapa pertemuan lagi, ditambah kemungkinan untuk tidak menjumpainya lagi di term selanjutnya karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya pindah ke kota lain membuatku seolah mempunyai tenaga baru. Seolah aku lupa akan rasa lelah. Tak akan ku sia-siakan waktu untuk dapat menemuinya dan mencoba untuk mengenalnya lebih jauh. Ulasan "sang pemimpi" Andrea Hirata turut memompa semangatku. Kuputuskan untuk mengikuti ujian. Dengan motor andalan, perlahan kulewati barisan pejalan kaki yang menenteng tas bergambar pria berambut kribo dengan kacamata yang disangkutkan di bagian bawah dari hidungnya. Inilah gambaran bagaimana "k!ckAndy effects" Andy Noya yang telah berhasil dengan slogan "menonton dengan hati" nya itu.
Kurasakan hembusan angin yang mulai dingin menerpa bagian depan badanku sepanjang jalan menuju tempat les ku.
Ujian hampir dimulai ketika aku tiba, Miss Amel tampak sedang membagikan soal dan lembar jawaban untuk ujian di hari itu. Ia masih sempat menggodaku sembari membagikannya. Sebuah pertanyaan menggoda tentang Westy yang memancing teman sekelasku untuk ikut menggodaku. Sejak Westy bergabung di kelas kami, Miss Amel memang selalu menggodaku, seakan ia tau ada "rasa yang tak biasa" dari diriku kepada Westy. Sesungguhnya, jika ia mendesakku aku tak kan bisa mengelak lagi. Cantik, manis, smart, single. Sungguh tak ada alasan untuk tidak menyukai sesosok Westy.
Tapi..dimanakah Westy? Tak kulihat dia di sini, apakah Westy terlambat? Ataukah Westy tidak datang?. Pertanyaan itu menyelinap diantara deretan pertanyaan di lembar soal ujian yang kini teronggok di depanku. Kukerjakan soal-soal ujian itu sambil harap-harap cemas menunggunya. Rasa lelah yang telah hilang kini justru menjadi belipat-lipat, seolah rasa lelah itu membalaskan dendamnya karena aku telah melupakannya dan menggantinya dengan sosok Westy.
Ternyata Westy tidak datang hari itu. Ketidak hadirannya ikut mengubur niatku. Akan kudapatkan no hp nya, akan kutawarkan untuk mengantarnya pulang. Itulah niat ku hari ini, yang suatu hari nanti ternyata tak mudah untuk ku ungkapkan meski telah bertemu dengan sosoknya...

0 komentar: