headline photo

the DARURAT Candle Light Dinner

Selasa, 19 Januari 2010

"sesungguhnya tak ada satu lembar daun pun yang jatuh tanpa kehendak dan sepengetahuan Nya"
Malam ini ia mengenakan celana jeans panjang dengan kaus cokelat yang senada dengan tas tangannya.
"Mo jalan kemana nih?" tanyaku
"Ke MOG ya mas, ada yang mo dibeli"
"Mo beli apa sih? belanja?"
"Ada deh..liat aja ntar"
Aku pun langsung men_stater motorku, suara free_flow knalpotnya membelah dinginnya malam itu, pemadaman listrik yg sedang terjadi ikut menambah kesan sunyi.
Sampailah kami di sebuah mall baru di kota Malang, berdiri bermandikan cahaya dari lampu ribuan watt, bangunan megah itu tampak kontras dengan rumah-rumah kecil di sekelilingnya yang gelap karena pemadaman. Setelah sempat tersesat mencari tempat parkir di mall yg baru pertama kali ku kunjungi itu, Kami berjalan menuju sebuah toko buku bernuansa hijau di lantai 2. Barulah ku tau apa yang akan dibelinya, sebuah puzzle alphabet untuk seorang keponakannya. Seorang tante yang baik, pikirku... Sebuah kado yang bagiku semakin memperjelas sosoknya yg cerdas, mengedepankan unsur edukasi tanpa meninggalkan fungsi rekreasi, esensi dari sebuah mainan itu sendiri. Satu point lagi yang menambah rasa simpatiku padanya. Selesai dengan puzzle alphabet itu, kami keluar dari toko buku menuju tempat parkir untuk selanjutnya mencari tempat untuk makan malam.
Sambil berjalan menuju pintu keluar, aku menanyakan tentang kebiasaannya berpuasa.
"Emang tiap minggu puasa ya ?"
"Iya...udah kebiasaan dari dulu"
Ah...semakin kagum aku dibuatnya. Aku semakin tak punya alasan untuk tidak menyukainya.
Ya Allah betapa indah makhluk ciptaanmu yang satu ini. Tunjukkanlah padaku keburukannya agar aku dapat berhenti menyukainya. Sebuah harapan yang terdengar konyol, tapi aku punya cukup alasan untuk menyanggahnya.
Sampailah kami di tujuan. Pulosari. Sebuah jalan kecil, Dengan panjang tak lebih dari 1 kilometer dan deretan warung makan berdinding semi permanen anyaman bambu di salah satu sisi jalannya. Sinar lampu yang diganti dengan cahaya lilin membuat suasana tampak sangat bebeda. Sebuah Candlelight Dinner langsung terbayang di otak ku. Kami duduk di kursi kayu, berhadapan, satu set dengan meja kotak kecil. Sebuah lilin kecil yang telah meleleh setengah bagian berdiri di tengahnya.Temaram sinarnya tak dapat menyembunyikan paras cantik sosok Westy. Tak banyak kata, kubiarkan mata dan hatiku menikmati siluet indah yang tercipta dan menutup sebagian wajahnya ketika sesekali rambutnya terjatuh lemas di pipinya. Siluet itu terbayang hingga aku mengantarnya pulang, dan tenggelam seiring pejaman mata menutup mozaik malam itu.
Sungguh sebuah situasi yang sempurna ketika seorang lelaki dewasa melewatkan malam bersama gadis yang disukainya..

Thanx y d mo nemenin jalan
Nice candlelight dinner
met istirahat
C U soon

0 komentar: