"brain cancer stadium satu", itu isi sms yang aku terima siang itu. Langsung kucoba menghubunginya, berkali-kali, tak dijawab, membuatku semakin risau. Tak lama setelahnya, ia mengirim sms yang mengabarkan jika ia baik-baik saja. Walaupun aku tak yakin dengan kabar itu. Tak bisa kubayangkan saat dia seorang diri harus menerima vonis itu dari dokter. Seharusnya aku tak disini. Ingin rasanya berada disisinya saat itu. Menggenggam tangannya sekedar untuk menguatkannya. Membiarkan dia menangis di pelukanku. Dalam hati, aku berjanji untuk menjaganya. Tak kan kusia-siakan kepercayaannya padaku. Dia telah menjadikanku orang pertama dan satu-satunya yang tau tentang penyakit yang kini bersarang di kepalanya itu.
Mulai dari yang aku bisa, menjaga perasaannya. Tak ingin kusakiti hatinya, mengisi harinya dengan tawa.
Terucap sesal darinya tentang gaya hidup di masa lalunya. Ahh..sudahlah Sayang..
Di balik itu semua...
Kulihat kekuatan di mata dan pola pikirnya.
Kekuatan yang sesuai dengan namanya.
Kekuatan yang menjadi alasan untuknya merahasiakan penyakit itu dari orang-orang dekatnya.
Kekuatan yang kulihat saat berkata "aku pasti sembuh..."
Mataku terasa basah saat kudengar semangatnya, teriring doa untuk mu Sayang..
Ya Allah...
Berikanlah dia kesempatan untuk menjadi wanita seutuhnya
Sempatkanlah dia untuk menjadi istri yang patuh pada suaminya
Sempatkanlah dia untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya
Mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya di jalan MU..

2 komentar:
Amin, smoga dia bisa sehat kembali.. Amin....
Thanks buat Doa nya...
Posting Komentar